Aceh Indonesia
Irwandi Yusuf
Head of Forestry Agency

Aceh terletak antara 20 dan 60 derajat utara khatulistiwa di ujung utara Pulau Sumatera dan melintasi Selat Malaka dari Semenanjung Malaysia. Ini adalah provinsi paling barat di Indonesia dan memiliki sejarah unik yang tertanam kuat dalam struktur sosial yang mencerminkan pentingnya Islam bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam struktur administrasi formal yang lazim di Indonesia ada sistem kepemimpinan informal (mukim) yang mengidentifikasi masyarakat lokal yang kuat memegang ikatan agama. Komunitas-komunitas ini, dengan dasar agama mereka, adalah bagian yang kuat dari masyarakat Aceh. Provinsi diberi Otonomi Khusus pada tahun 2001. Mereka adalah agen kunci yang dimobilisasi oleh Gubernur sebagai bagian dari inisiatif REDD di Propinsi untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Provinsi ini menempati wilayah seluas hampir 57.000 km² dan mendukung populasi 4,3 juta di antaranya yang tinggal di lingkungan pedesaan. Penduduknya berasal dari etnis campuran dengan orang Aceh asli yang dilengkapi oleh masyarakat dari Jawa, tempat lain di Sumatera dan etnis Tionghoa. PDB pada tahun 2008 adalah USD 3,8 juta dimana sektor pertanian, termasuk sektor kehutanan dan perkebunan, menyumbang sekitar USD 900 juta. Aceh telah menjadi sumber utama produksi minyak dan gas bumi dan sektor ini masih merupakan penyumbang utama PDB. Pendapatan per kapita rata-rata adalah USD 881,3 dengan tingkat kemiskinan dan IPM yang serupa dengan rata-rata nasional.

Karena produksi LNG menurun, pemerintah fokus pada strategi pembangunan hijau. Aceh Hijau berusaha mengoptimalkan penggunaan potensi pembangkit tenaga air; menerapkan pengelolaan hutan lestari, mempertahankan dan melindungi dataran rendah untuk produksi pangan, untuk memperhatikan pentingnya pengelolaan limbah dan penggunaan lahan untuk mengurangi risiko bencana, dan mengatur secara hati-hati penggunaan sumber daya tak terbarukannya. Pendekatan terhadap masa depan ekonomi dengan jejak karbon rendah konsisten dengan kebijakan nasional dan mendasari komitmen Propinsi untuk pemanfaatan hutannya secara lestari, tercermin dalam reklasifikasi zona pemanfaatan hutan yang signifikan ke Cagar Hutan dan Konservasi Pelestarian dan moratorium penebangan komersial.

Sebelum diperkenalkannya penebangan komersial, luas hutan diperkirakan hanya 36.000 km². Kawasan hutan tersisa seluas 33.400 km. Seperti Papua, Aceh secara historis memiliki tingkat deforestasi yang rendah yang membuktikan sulitnya penebangan berskala besar di daerah dataran tinggi yang curam dan dampak perjuangan bersenjata yang panjang dan bersenjata untuk kemerdekaan. Tingkat suku bunga rendah ini akan mempengaruhi pendekatan yang diambil untuk menetapkan garis dasar untuk perdagangan karbon di masa depan. Lebih dari 80% kawasan hutan yang tersisa ditetapkan untuk tujuan konservasi dan perlindungan alam, yang menekankan pentingnya pengembangan pemanfaatan non-destruktif untuk hutan seperti pariwisata dan pembayaran untuk layanan lingkungan, termasuk REDD. Perkiraan karbon saat ini yang diasingkan di hutan Aceh berjumlah 602 juta ton CO₂e. Hutan di Aceh mengandung populasi sisa Badak Sumatera, harimau dan orang utan yang tersisa. Cadangan Ekosistem Leuser dan Hutan Ulu Masen adalah hutan yang signifikan secara global dan mencari dukungan dari investasi REDD dalam pengelolaan masa depan mereka.

Informasi tambahan dapat ditemukan di Platform Dampak GCF.

Ringkasan

56,776km²
55.7%
-18.0%
2016 - 2017

Demografi

4.49 M
1.9%
Kategori% 
Pedesaan80.67
Urban19.32
Kelompok% 
Acehnese79.00
Gayo Lut7.00
Gayo Luwes5.00
Alas4.00
Singkil3.00
Simeulue2.00

Ekonomi

IDR146.5
IDR28.25 M
Kategori% 
Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan23.86
Perdagangan, Hotel & Restoran13.71
Pertambangan & penggalian9.96
Jasa9.85
Transportasi & Komunikasi9.37
Konstruksi8.61
Industri pengolahan7.54
0.717
Bahan bakar mineral, minyak mineral dan berikut produk penyulingannya, bahan kimia anorganik, pupuk, bijih besi, terak, abu, coklat dan olahan coklat.

Status Hutan[a]

33,485km²
31,600km²
1,885km²
449M MtC
Kategorikm² 
Secondary Dryland Forests17,295
Primary Forest12,048
Shrubs6,901
Agriculture Dry land mixed5,703
Agriculture Dry land3,430
Rice fields3,198
Plantation1,839
Secondary Swamp Forest1,144
Savannah1,139
Swamp959
Open Ground884
Tambak716
Crops464
Water body324
Secondary Mangrove Forest294
Settlement219
Primary Swamp Forest98
Kategorikm² 
Conserved Forest Area14,277

Menurut Rencana Aksi REDD + Strategis Aceh (2014), Penyebab utama deforestasi adalah:

  1. Lemahnya kepatuhan terhadap perencanaan tata ruang
  2. Konflik kepemilikan lahan
  3. Lembaga pengelolaan hutan yang tidak efektif
  4. Transformasi mata pencaharian pasca konflik yang sedang berlangsung
  5. Insentif dan disinsentif kebijakan yang belum diimplementasikan
  6. Pemerintah (Kehendak Politik)
  7. Konflik kewenangan untuk mengatur perubahan penggunaan lahan
  8. Persepsi tentang kawasan hutan dan sumber daya alam secara administratif dibatasi
  9. Kurangnya sumber alternatif kayu
  10. Penegakan hukum yang lemah

Notes

a.Karena pendekatan metodologis dan tahun dasar yang berbeda, bidang data Status Hutan mungkin sedikit berbeda. Sumber data untuk setiap bidang tercantum di bawah ini.

Sources

1.Aceh Dalam Angka 2014, Hal. 42
2.BPS-SP 2012 Aceh, hal 113
3.BPS 2016
4.Aceh dalam angka 2012, BPS
5.Aceh Central Statistics Agency (BPS), Aceh dalam angka 2012 hal 493 link
6.Aceh dalam angka 2012 hal 350 , BPS
7.Ministry of Environment and Forestry 2018
8.Provincial SRAP (2014)